Harapan dari Gattareng: Bertani Bawang dengan Teknologi

Di tengah kecenderungan lulusan perguruan tinggi mengejar karier di kota besar, pilihan yang diambil Miftahul Khaer justru berbeda. Lukusan Fakultas Teknik ini memutuskan kembali ke kampung halamannya di Kabupaten Soppeng untuk mengembangkan budidaya bawang, komoditas yang hingga kini masih relatif sedikit dibudidayakan di daerah tersebut. Berbekal ilmu pengetahuan semasa kuliah dan semangat berinovasi ia berhasil membangun usaha pertanian bawang merah berbasis tekonologi yang ramah lingkungan di desanya. Kepada tim soppengta.com ia berbagi kisah tentang keberanian mengambil jalan yang berbeda.

Profil Singkat
Nama : Miftahul Khaer
Pendidikan : Sarjana Teknik UNM 2023
Usia : 26 Tahun
Profesi : Petani Bawang
Domisili : Desa Gattareng, Kec. Marioriwawo Kab. Soppeng

soppengta.com : Apa yang membuat Anda memilih pulang ke desa dan bertani? Apakah ini pernah anda bayangkan sebelumnya?

Miftahul : Tentu. Saya sudah memikirkan ini sejak saya masih kuliah. Orang tua saya juga adalah petani. Biaya perkuliahan pun dari hasil pertanian. Sejak kuliah saya melihat banyak teknologi mesin pertanian yang bisa diterapkan di pedesaan. Jadi saya termotivasi untuk pulang menerapkan pengetahuan saya. Disisi lain, saya merasa prihatin dengan cara bertani masyarakat desa yang mayoritas masih konvensional. Saya pulang dengan niat membantu.

soppengta.com : Mengapa anda memilih komoditas bawang? Darimana ide itu berasal? Bukankah banyak komoditas lain yang bisa dikembangkan?

Miftahul: Saya melakukan survey sendiri. Menurut saya ada dua komoditas yang memiliki prospek ekonomi tinggi, yakni cabai dan bawang merah. Setelah berhasil membudidayakan cabai, saya tertarik mengembangkan bawang merah. Ide ini muncul karena masih banyak yang beranggapan bahwa bawang merah hanya dapat tumbuh di daerah tertentu, Saya ingin membuktikan bahwa bawang merah juga bisa tumbuh dan berkembang disini jika dikelola dengan baik dan tepat. Tentu saya banyak melakukan studi terlebih dahulu.

soppengta.com : Apa tantangan pada saat anda memulai dan faktor apa yang sangat mendukung anda merealisasikan ide bertani bawang tersebut?

Miftahul: Tantangan utamanya adalah modal yang cukup besar. Budidaya bawang merah memerlukan peralatan khusus serta biaya perawatan yang cukup besar. Masyarakat juga sudah sangat bergantung pada penggunaan bahan kimia. Jadi untuk menekan biaya tersebut saya mencoba menerapkan penggunaan organik secara perlahan. Disisi lain juga dukungan dari pemerintah desa dengan bantuan modal dari BUMDes.

soppengta.com : Teknologi apa saja yang sedang Anda kembangkan?

Miftahul : Kami sudah menerapkan penggunaan lampu LED berbahan energi tenaga surya untuk menekan populasi hama pada malam hari. Semuanya sudah terotomatisasi. Jadi dengan penggunaan sensor cahaya lampu LED akan menyala pada malam hari dan padam dengan sendirinya di pagi hari. Saya juga berfokus untuk menjaga kondisi tanah. Penggunaan pupuk kimia secara berkepanjangan tentu akan merusak kondisi kesuburan tanah. Jadi saya memanfaatkan pengguanaan asam amino dan humat organik yang harganya relatif murah dibanding pupuk kimia. Sekam padi yang sudah terbakar sempurna saya gunakan untuk memenuhi kebutuhan kalsium dan silika. Menariknya bahan ini dapat kita peroleh secara gratis dari tempat penggilingan padi. Selain itu, tempat penggilingan juga merasa terbantu dalam mengelolah limbah mereka.

soppengta.com : apakah penerapan teknologi yang anda terapkan tergolong berhasil?

Miftahul : Alhamdulillah. Kami berhasil menekan biaya produksi dan mempermudah pekerjaan petani. Hasil panen kami musim ini hampir mencapai 5 ton untuk luas 0,45 Ha.

soppengta.com : apakah anda sudah memikirkan inovasi apa lagi yang akan anda lakukan?

Miftahul : Tentu, Saat ini kami masih menggunakan pompa air berbahan bakar bensin. Sedangkan saat ini bahan bakar sedikit langka. Jadi saya sedang memikirkan untuk beralih ke penggunaan pompa air berbahan tenaga surya. Selain itu, saya sedang merancang sistem berbasis Internet of Things (IoT). Bawang merah sangat membutuhkan air namun tidak baik juga jika tanah terlalu lembab. Jadi saya ingin menggunakan sensor pengukur kelembaban tanah yang terhubung ke ponsel. Ketika kelembaban tanah menurun maka indikator itu akan mengirim notifikasi ke ponsel. Dari ponsel kita bisa memberi perintah ke pompa air untuk menyalakan kincir air. Ketika kelembaban tanah sudah cukup maka sensor tanah akan kembali mengirim sinyal ke ponsel dan pompa air akan mati dengan otomatis.

soppengta.com : apa yang paling anda harapkan dari sistem pertanian berbasis teknologi ini?

Miftahul : Tentu untuk meningkatkan taraf hidup ekonomi petani dengan menekan biaya produksi. Jika biaya produksi turun laba akan meningkat. Selain itu faktor ketahanan lingkungan juga menjadi fokus utama. Memang untuk biaya awal pengadaan alat teknologi relatif mahal. Namun jika kita berpikir investasi, alat ini bisa kita gunakan untuk jangka panjang.

soppengta.com : Bagaimana tanggapan masyarakat di sekitar anda terkait inovasi anda? terutama kalangan petani?

Miftahul : Mereka sangat antusias. Saat ini sudah banyak yang beralih dari penggunaan pupuk kimia ke organik. Bahkan bukan hanya untuk bawang merah, penerapan inovasi ini juga telah petani lakukan pada komoditi lain seperti jagung.

soppengta.com : Apa harapan dan pesan anda untuk generasi muda soppeng?

Miftahul : Saya tidak berharap apa-apa. Saya sudah sangat bersyukur jika ide saya bisa memotivasi petani lain. Pesan saya adalah sebagai generasi terpelajar mari kita terus berinovasi dan memberi solusi pada permasalahan yang ada disekitar kita sesuai kemampuan kita. Jangan menjadi orang yang banyak menuntut, tapi menjadi orang yang memiliki jiwa pejuang dan solutif. Tentu tidak mudah, tapi mari kita mulai dari hal kecil.

Tinggalkan komentar